KANALMADURA.COM, JAKARTA – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan transformasi ekonomi digital tidak boleh berhenti di penggunaan teknologi saja.
Menurut Emil, digitalisasi harus benar-benar menghasilkan nilai tambah ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Emil saat menjadi pembicara di Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026 di JICC Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Dalam diskusi bertema “Akselerasi Ekonomi Keuangan Digital untuk Mendukung Produktivitas Ekonomi”, Emil tampil bersama Gubernur Sulsel, pejabat Kemenko Perekonomian, Komdigi, dan Bank Indonesia.
Emil menyebut Jatim punya modal kuat untuk akselerasi ekonomi digital. Pada Semester I 2026, ekonomi Jatim tumbuh 5,84 persen (c-to-c), tertinggi di Pulau Jawa.
Kontribusi Jatim mencapai 25,40 persen terhadap ekonomi Pulau Jawa dan 14,34 persen terhadap ekonomi nasional.
“Skala ekonomi yang besar, pertumbuhan yang kuat, dan masyarakat yang semakin siap digital menjadi modal penting,” kata Emil.
Kesiapan itu terlihat dari penetrasi internet Jatim 2026 yang mencapai 83,41 persen, di atas rata-rata nasional 81,72 persen.
Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) Jatim juga mencapai 49,17, Indeks SPBE 4,79 dengan predikat memuaskan, dan Indeks Satu Data Indonesia 90,13 peringkat pertama nasional.
Emil mengingatkan, digitalisasi tidak cukup hanya memperluas QRIS dan e-wallet. Ekosistem digital harus terhubung dengan pembiayaan produktif.
Saat ini Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemda (IETPD) Jatim sudah 98,3 persen dan transaksi non-tunai 82,05 persen. Penyetoran opsen pajak non-tunai real time sudah terintegrasi di 38 kabupaten/kota.
“Digitalisasi harus memberikan kemudahan nyata. Tapi manfaatnya harus bergerak lebih jauh, dari sekadar transaksi menuju peningkatan produktivitas,” ujarnya.
Per Juli 2026, kredit modal kerja di Jatim mencapai Rp323,57 triliun atau 50,47 persen dari total kredit. Kredit investasi Rp116,85 triliun tumbuh 14,56 persen year-on-year.
“Ukuran keberhasilan ekonomi digital pada akhirnya adalah produktivitas,” tegas mantan Bupati Trenggalek itu.
Emil juga menyoroti pentingnya talenta digital. Jatim telah memetakan kebutuhan 19.462 peserta, mulai dari ASN, pelajar, vokasi, IKM, fresh graduate, hingga masyarakat umum.
Menurutnya, Jatim tidak ingin hanya mencetak pengguna teknologi.
“Jawa Timur tidak hanya ingin mencetak pengguna teknologi, tetapi menyiapkan talenta yang mampu menciptakan inovasi dan nilai tambah,” pungkas Emil.












