KanalMadura.com,Sumenep – Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, menyatakan dukungan penuh terhadap wacana mengenalkan proses pembuatan keris kepada kalangan pelajar.
Menurutnya, gagasan tersebut merupakan terobosan positif untuk memperkuat upaya pelestarian budaya di Kabupaten Sumenep.
Faruk mengatakan, pengenalan keris melalui dunia pendidikan dapat menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya leluhur sejak usia dini. Dengan demikian, generasi muda diharapkan lebih mengenal sekaligus memahami identitas budayanya.
Ia mengusulkan agar para siswa diberi kesempatan mempelajari keterampilan menjadi empu atau perajin keris, baik melalui kegiatan pembelajaran di kelas maupun praktik seni budaya di sekolah. Menurutnya, langkah tersebut akan menjadi inovasi yang bernilai besar.
“Ini gagasan yang cemerlang dan patut diapresiasi. Saya setuju penuh. Jika anak-anak kita dibiasakan mengenal proses menjadi empu, itu akan menjadi lompatan besar bagi pelestarian budaya,” ujar Faruk di Sumenep, Rabu (8/7/2026).
Lebih lanjut, Faruk menjelaskan bahwa pendidikan berbasis budaya sejak dini akan membantu peserta didik memahami sejarah, nilai filosofis, hingga proses kreatif dalam pembuatan keris sebagai salah satu warisan leluhur.
Ia juga menyinggung keberhasilan Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam mengenalkan seni musik keleningan kepada para pelajar.
Saat ini, setiap pengunjung Museum Keraton Sumenep disambut dengan alunan musik keleningan, yang menunjukkan budaya lokal semakin dikenal dan diterima masyarakat.
“Dahulu keleningan hanya dimainkan oleh komunitas tertentu di wilayah tertentu seperti Pinggirpapas dan Dasuk. Sekarang, anak-anak SD dan SMP sudah banyak yang mahir memainkannya,” katanya.
Faruk menambahkan, Bupati Sumenep bahkan berharap kemampuan memainkan keleningan sudah diajarkan sejak siswa berada di kelas 1 SD.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa penguatan pendidikan berbasis budaya sejak usia dini mampu memberikan hasil nyata apabila dilakukan secara berkelanjutan.
“Kebudayaan jangan sampai terlupakan. Jangan hanya melekat pada generasi tua. Anak-anak juga perlu tahu bagaimana keris dibuat, agar cinta terhadap budaya daerah tumbuh sejak kecil,” tegasnya.
Karena itu, Faruk berharap rencana pembelajaran pembuatan keris di sekolah dapat segera direalisasikan sebagai bagian dari upaya menjaga dan melestarikan budaya Sumenep di tengah derasnya arus modernisasi.
Penulis : Za
Editor : Redaksi


