Khofifah Buka Mega Science Center di Batu, Belajar STEM Kini Bisa Sambil Bermain

WhatsApp Image 2026 09 17 At 18.06.59 1

KANALMADURA.COM, BATU – Belajar sains tak lagi harus identik dengan ruang kelas. Di Kota Batu, Jawa Timur Park (JTP) Group menghadirkan Mega Science Center dan Budaya yang menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga kekayaan budaya Indonesia.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka trial opening pusat edukasi tersebut di kawasan Jatim Park 1, Kota Batu, Rabu (16/9/2026).

Khofifah menyambut positif kehadiran wahana edukasi berbasis teknologi tersebut. Menurutnya, konsep yang ditawarkan dapat menjadi alternatif pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang lebih menyenangkan bagi anak-anak.

“Hari ini saya rasa ada angin segar bagaimana STEM ini disajikan dengan suasana yang gembira dan anak-anak pasti akan sangat menikmati. Sehingga harapannya STEM kita ini akan punya referensi bagaimana menyajikan di dalam bentuk bermain, learning by doing,” kata Khofifah.

Mega Science Center tidak hanya mengandalkan alat peraga. Teknologi Artificial Intelligence (AI) juga menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran di dalamnya.

“Apalagi juga digunakan teknologi AI yang canggih. Saya rasa digital IT disiapkan dengan ekosistem yang sangat baik,” ujarnya.

Khofifah menilai fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi sekolah-sekolah di Jawa Timur. Sebab, menurutnya, penyediaan fasilitas pembelajaran sains dengan skala besar tidak mudah dilakukan oleh masing-masing sekolah.

“Suasana yang dimana anak-anak bisa sambil belajar. Ini adalah ruang belajar luar biasa yang tidak mudah dan tidak murah kalau harus disiapkan oleh unit sekolah,” tuturnya.

Karena itu, Khofifah mengajak guru dan orang tua mengenalkan pusat sains tersebut kepada anak-anak sejak usia dini.

“Saya rasa dari anak-anak TK sudah bisa dikenalkan ke sini, supaya harapannya mereka memiliki kecintaan terhadap STEM sejak dini,” lanjutnya.

Khofifah juga menyoroti konsep Mega Science Center yang tidak hanya berbicara soal teknologi dan ilmu pengetahuan. Unsur budaya turut menjadi bagian dari pusat edukasi tersebut.

Menurutnya, perkembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan identitas kebangsaan.

“Mega Science Center ini akan menjadi bagian dari penguat sisi keilmuan, sisi wisata dan sisi membangun identitas karakter,” kata Khofifah.

Ia kemudian menyinggung pengalamannya ketika mengunjungi sejumlah museum internasional. Menurut Khofifah, museum dapat menjadi sarana untuk memahami perjalanan sebuah bangsa sekaligus perkembangan peradabannya.

“Dengan pemandu yang luar biasa akan memberikan daya tarik yang luar biasa juga kepada seluruh pengunjung. Jadi yang sedang dilakukan oleh Jatim Park Group adalah sisi bangunan karakter, ada sisi peradaban selain dari science center,” jelasnya.

Khofifah juga mengapresiasi karya-karya prototype tokoh yang berada di kawasan Jatim Park. Ia menyebut karya tersebut sebagai gambaran kekayaan intelektual dan kreativitas masyarakat Malang dan Batu.

“Ini artinya kekayaan intelektual dan kekayaan budaya hingga kreativitas anak-anak Malang dan Batu ini sungguh luar biasa,” pujinya.

Mega Science Center dan Budaya dibangun di atas lahan sekitar 3 hektare. Di dalamnya terdapat sekitar 600 alat peraga dan lebih dari 1.000 artefak.

Koleksinya mencakup berbagai bidang, mulai dari fisika, biologi, matematika, kimia, teknologi, robotik hingga budaya.

Pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan berbagai alat peraga untuk memahami fenomena sains dan perkembangan teknologi.

Sejumlah zona pembelajaran disiapkan, di antaranya Zona Islam, Zona Budaya, Zona Antariksa, Zona Fisika, Zona Bencana Alam serta Zona Robotic AI.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengaitkan keberadaan Mega Science Center dengan perkembangan peradaban dunia.

Ia mengutip pandangan pakar internasional Kishore Mahbubani mengenai pergeseran pusat peradaban dunia menuju kawasan Asia.

Menurut Khofifah, Indonesia dan ASEAN memiliki peluang untuk mengambil peran dalam dinamika tersebut. Keberadaan pusat sains, teknologi dan budaya dinilai menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang dapat memperkuat kesiapan tersebut.

“Ini akan menjadi bagian dari penguat ekosistem agar kita siap dalam mengambil peran menangkap proses pergerakan dari peradaban dunia. Rasanya peradaban dunia bisa kita bawa ke Indonesia dan Jawa Timur siap untuk menjadi bagian untuk menjadi sentra dari peradaban dunia yang bergerak,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *