KANALMADURA.COM, SUMENEP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Trunojoyo Sumenep menyatakan wilayah Madura saat ini telah memasuki puncak musim kemarau yang diprakirakan berlangsung hingga September 2026, dengan pengaruh fenomena El Nino berintensitas moderat yang masih bertahan hingga Oktober mendatang.
Kepala BMKG Trunojoyo Sumenep Ari Widjajanto mengatakan secara klimatologis periode Agustus hingga September merupakan fase puncak musim kemarau di wilayah Madura dan sekitarnya.

“Fenomena El Nino ini diprediksi masih bertahan pada fase moderate hingga Oktober mendatang. Walaupun posisi Madura terbilang agak jauh, kita masih berada dalam jangkauan pengaruh fenomena tersebut,” kata Ari saat dikonfirmasi.
Menurut dia, keberadaan El Nino berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah, meskipun kondisi atmosfer lokal masih memungkinkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada titik-titik tertentu.
BMKG mencatat sebelum memasuki puncak musim kemarau terdapat anomali suhu muka laut yang lebih hangat di perairan utara Laut Jawa hingga memanjang ke arah timur dan mencakup sebagian wilayah perairan Madura.
Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan awan konvektif apabila terjadi gangguan cuaca, seperti perlambatan angin atau belokan angin yang memperkuat proses pembentukan awan.
Selain itu, faktor topografi Madura yang memiliki kawasan perbukitan juga berperan dalam mendorong udara naik ke atmosfer sehingga berpotensi memunculkan hujan lokal, meskipun wilayah tersebut sedang berada pada musim kemarau.
“Keberadaan perbukitan menjadi obstacle yang memaksa udara bergerak naik sehingga terbentuk awan konvektif, terutama jika didukung adanya belokan atau perlambatan angin,” ujarnya.
Meski demikian, Ari menjelaskan perkembangan terkini menunjukkan area suhu muka laut yang hangat mulai menyempit dan bergeser ke bagian selatan Madura, sedangkan di wilayah timur intensitasnya mulai berkurang.
Di sektor ekonomi, BMKG menilai kondisi cuaca saat ini menjadi momentum yang menguntungkan bagi petani garam dan petani tembakau karena dominasi cuaca cerah dapat mendukung proses produksi.
“Kondisi cuaca saat ini sangat mendukung dan diharapkan menjadi panen raya bagi para petani garam maupun petani tembakau di Madura. Semoga iklim tetap kondusif demi mendukung perekonomian masyarakat,” katanya.
BMKG juga mengingatkan nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di laut agar tetap mewaspadai potensi angin timuran yang bertiup lebih kencang selama puncak musim kemarau karena dapat memicu peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan sekitar Madura.
Namun, El Nino moderat tidak berarti hujan berhenti total. Hujan lokal masih bisa terjadi akibat faktor cuaca setempat, seperti pertumbuhan awan konvektif, belokan angin, atau pengaruh topografi, sebagaimana dijelaskan BMKG Trunojoyo Sumenep.




















