Jatim Terancam Kekeringan Makin Panjang, Hujan Rendah Diprediksi Berlanjut hingga Oktober

Avatar of Kanal Madura
Peta Distribusi Curah Hujan BMKG. Foto: Istimewa/BMKG

KANALMADURA.COM, SURABAYA – Kekeringan yang berlangsung panjang mulai meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah Jawa Timur. Warga di daerah yang mengalami hari tanpa hujan panjang berpotensi menghadapi semakin terbatasnya sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, maupun peternakan.

Berdasarkan monitoring Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Timur per 20 September 2026, hari tanpa hujan (HTH) berturut-turut di sebagian besar wilayah Jawa Timur secara umum telah mencapai lebih dari 60 hari. Kondisi itu masuk dalam kategori kekeringan ekstrem.

Situasi tersebut diperparah dengan rendahnya curah hujan. Pada Dasarian II September 2026, distribusi curah hujan di Jawa Timur tercatat berada dalam kategori rendah.

Kondisi kering juga diperkirakan masih berlangsung dalam waktu dekat. Berdasarkan prediksi deterministik BMKG, curah hujan pada Dasarian III September 2026 di sebagian besar wilayah Jawa Timur diprakirakan berada dalam kategori rendah.

Peluang terjadinya curah hujan rendah pada periode tersebut bahkan mencapai lebih dari 90 persen berdasarkan prediksi probabilistik.

Kondisi ini berpotensi memperpanjang persoalan ketersediaan air, terutama di wilayah yang sumber airnya mulai menurun akibat kemarau panjang. Kebutuhan air untuk rumah tangga, lahan pertanian dan peternakan juga menjadi perhatian apabila periode kering terus berlanjut.

Belum ada tanda kuat bahwa kondisi tersebut segera berakhir. Prakiraan BMKG menunjukkan curah hujan rendah masih berpotensi mendominasi sebagian besar wilayah Jawa Timur hingga Oktober 2026, baik pada Dasarian I, Dasarian II maupun Dasarian III.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diminta mulai mengantisipasi kemungkinan berlanjutnya kekeringan dengan menghemat penggunaan air dan menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia.

Pemerintah daerah juga perlu mengantisipasi kebutuhan air bersih, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan sumber air terbatas.

Selain kekurangan air, kondisi kemarau panjang juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di kawasan yang vegetasinya sudah sangat kering.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim. Kondisi atmosfer dapat berubah sehingga pembaruan prakiraan tetap diperlukan sebagai dasar dalam menentukan langkah antisipasi.

Dengan hari tanpa hujan yang telah mencapai kategori ekstrem dan curah hujan yang diprediksi masih rendah hingga Oktober, kewaspadaan terhadap dampak kekeringan di Jawa Timur perlu terus ditingkatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *