KANALMADURA.COM,SAMPANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang mulai melakukan pemetaan tingkat ancaman berbagai jenis bencana hidrometeorologi di 14 kecamatan menjelang musim hujan tahun 2025–2026.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang meningkat selama periode perubahan cuaca ekstrem di wilayah Madura bagian tengah tersebut.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sampang melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik, Mohammad Hozin, mengungkapkan bahwa hasil kajian terbaru menunjukkan cuaca ekstrem menjadi ancaman paling dominan dengan tingkat risiko tinggi di hampir seluruh kecamatan. Selain itu, banjir dan tanah longsor juga termasuk dalam kategori risiko tinggi hingga sedang di sejumlah wilayah.
“Hasil analisis menunjukkan bahwa cuaca ekstrem dan banjir mendominasi ancaman hidrometeorologi di Kabupaten Sampang. Data ini menjadi acuan bagi kami untuk menyusun rencana mitigasi dan kesiapsiagaan yang lebih terfokus,” ujar Hozin kepada Kanal Madura, Jumat (31/10/2025).
BPBD Sampang membagi tingkat ancaman menjadi beberapa kelas bahaya. Berdasarkan data resmi, kategori risiko bencana ditetapkan sebagai berikut:
Risiko Tinggi: Banjir dan Tanah Longsor
Risiko Sedang: Gelombang Ekstrem & Abrasi, Kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Gempabumi, dan Tsunami
Ancaman Banjir Tinggi di Kecamatan Torjun, Pengarengan, Sampang, Camplong, Omben, Banyuates, Robatal, Karangpenang, dan Ketapang.
Cuaca Ekstrem Risiko Tinggi di Sreseh, Torjun, Sampang, Camplong, Kedungdung, Jrengik, Tambelangan, Banyuates, Robatal, Karangpenang, dan Ketapang.
Tsunami Risiko Tinggi di Kecamatan Sokobanah dan Ketapang, serta risiko sedang di Sreseh, Torjun, Pengarengan, Sampang, Camplong, dan Banyuates.
Gelombang Ekstrem & Abrasi Risiko Sedang di hampir seluruh kecamatan pesisir seperti Sreseh, Torjun, Camplong, Banyuates, dan Ketapang.
Risiko Relatif Rendah untuk Gempabumi ditemukan di Kecamatan Kedungdung dan Jrengik.
BPBD Sampang mengimbau masyarakat di seluruh kecamatan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap ancaman banjir dan cuaca ekstrem yang mendominasi hasil kajian.
“Kami berharap masyarakat aktif melaporkan potensi bahaya di lingkungannya, seperti saluran air tersumbat atau tanah yang mulai labil. Pencegahan lebih baik daripada penanganan setelah bencana,” tambah Hozin.
Selain memperkuat kesiapsiagaan internal, BPBD juga mendorong kolaborasi lintas instansi, mulai dari pemerintah desa, TNI-Polri, hingga relawan kebencanaan.
“Upaya pengurangan risiko bencana tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan sinergi semua pihak serta partisipasi aktif masyarakat agar dampak bencana dapat ditekan sekecil mungkin,”
pungkasnya.
Langkah pemetaan ini akan menjadi dasar penyusunan rencana kontinjensi dan sistem peringatan dini (early warning system) selama musim penghujan berlangsung. BPBD menegaskan, kesiapsiagaan menjadi kunci utama menghadapi dinamika cuaca yang semakin ekstrem di wilayah Sampang dan sekitarnya.


