KANALMADURA.COM, SUMENEP – Musim kemarau yang seharusnya mulai mendominasi wilayah Pulau Madura pada Mei 2026 justru diwarnai hujan dengan intensitas cukup sering dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat, terutama kalangan petani yang mulai memasuki musim tanam tembakau.
Kepala BMKG Trunojoyo Sumenep, H. Arie Widjajanto, menjelaskan bahwa fenomena tersebut dipengaruhi kondisi atmosfer yang masih berada pada fase pancaroba atau peralihan musim.
“Memang saat ini sudah masuk musim kemarau, tetapi di awal-awal seperti sekarang masih ada fase pancaroba. Jadi potensi hujan masih bisa terjadi,” kata Arie saat memberikan keterangan di Sumenep, Sabtu.
Ia menjelaskan, beberapa hari terakhir pihaknya mendeteksi adanya sirkulasi siklonik di wilayah Sulawesi Tengah yang kemudian bergerak ke arah selatan dan kini berada di sekitar timur Kabupaten Sumenep, tepatnya di kawasan Pulau Selayar.
“Posisinya sekarang berada di timur Kabupaten Sumenep. Kondisi ini menyebabkan semacam blocking atau sumbatan cuaca di wilayah Madura sehingga memicu pembentukan awan hujan,” ujarnya.
Menurut dia, dampak dari sirkulasi tersebut menyebabkan perlambatan pergerakan angin di wilayah Jawa dan Madura. Pada saat bersamaan, suhu muka laut di perairan timur hingga barat Indonesia juga terpantau cukup hangat sehingga meningkatkan suplai uap air ke atmosfer.
“Angin timuran saat ini belum benar-benar kuat dan stabil. Ditambah suhu muka laut yang hangat, pasokan uap air menjadi sangat melimpah. Ketika bertemu topografi Madura yang berbukit-bukit kecil, kondisi itu memicu pertumbuhan awan konvektif yang akhirnya menimbulkan hujan,” katanya.
Fenomena hujan di awal musim kemarau tersebut dinilai perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi petani tembakau di wilayah Bangkalan, Sampang hingga Sumenep yang mulai melakukan penyemaian bibit.
Arie mengatakan hujan yang turun pada fase awal penanaman berpotensi merusak bibit tembakau karena tanaman muda sangat rentan terhadap kelebihan air.
“Sayang sekali kalau bibit yang baru ditanam kemudian mati akibat hujan. Karena itu petani perlu mengantisipasi, apalagi hujan yang terjadi saat ini umumnya tidak berlangsung lama atau hanya sesaat,” tuturnya.
Ia mengimbau masyarakat tetap memantau perkembangan informasi cuaca yang dikeluarkan BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas, khususnya di sektor pertanian.
“BMKG akan terus melakukan pemantauan dan pembaruan data perkembangan cuaca secara berkala agar masyarakat bisa lebih siap menghadapi kondisi cuaca yang berubah-ubah,” ujar Arie.
Penulis : Redaksi


